Oleh: Naufal Robbiqis Dwi Asta
Di
zaman digital ini, kehidupan manusia dipenuhi oleh arus informasi yang tidak
pernah berhenti. Teknologi terus berkembang dengan cepat, dan tekanan untuk
selalu terhubung membuat banyak orang merasa kelelahan secara mental dan
emosional. Dalam kondisi yang demikian, ajaran Timur kuno seperti Taoisme dan
Konfusianisme menawarkan perspektif yang dapat membantu kita menghadapi
tantangan modern dengan lebih bijaksana.
Masalah
utama yang dihadapi dalam era digital adalah hilangnya keseimbangan antara
koneksi teknologi dan hubungan manusiawi. Beberapa orang kerap terlalu berfokus
pada dunia maya, sehingga melupakan nilai-nilai yang mendukung kehidupan
bermasyarakat yang sehat. Selain itu, masalah seperti perundungan siber (cyberbullying),
penyebaran informasi palsu (berita hoax), dan isolasi diri semakin memperburuk
dampak negatif dari teknologi. Hal ini menimbulkan kebutuhan akan panduan etika
dan prinsip hidup yang relevan untuk kondisi demikian.
Taoisme
adalah filsafat yang dikembangkan oleh Lao Tzu dan dituangkan dalam Tao Te
Ching. Salah satu konsep utamanya adalah Wu Wei, yang diartikan
sebagai bertindak tanpa paksaan. Konsep ini mendorong individu untuk hidup
selaras dengan alam dan menghindari upaya yang berlebihan atau tidak alami.
Dalam Taoisme, harmoni dengan alam menjadi inti dari kehidupan yang bermakna. Lao
Tzu juga menggunakan analogi air untuk menjelaskan fleksibilitas dan kekuatan
karena air dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya tanpa kehilangan
sifat dasarnya. Prinsip-prinsip ini mengajarkan kita untuk menjalani hidup
dengan sederhana dan menghargai alur alami kehidupan.
Konsep
lain yang penting dalam Taoisme adalah gagasan bahwa kehidupan manusia
merupakan bagian dari harmoni alam semesta. Setiap individu dipandang sebagai
pinjaman dari alam, yang berarti hidup kita harus dijalani dengan rasa syukur
dan tanggung jawab. Taoisme juga menekankan kelembutan dan kerendahan hati,
seperti yang terlihat dalam pernyataan bahwa kelembutan adalah teman kehidupan,
sementara kekakuan adalah tanda kematian. Filosofi ini mengajarkan manusia
untuk menjadi lentur dan terbuka terhadap perubahan, tanpa kehilangan inti diri
mereka.
Konfusianisme,
di sisi lain, berfokus pada hubungan manusia dan nilai-nilai etis yang menopang
masyarakat. Filsafat ini diajarkan oleh Confucius yang menekankan konsep-konsep
seperti Ren (kemanusiaan), Li (ritual dan tata krama), dan Yi
(kebenaran). Ren adalah inti dari etika Konfusianisme, yang menekankan
empati dan kasih sayang terhadap sesama. Li merujuk pada tata krama dan
aturan yang menjaga harmoni dalam hubungan sosial. Sementara itu, Yi
menekankan aspek integritas moral dan tindakan yang benar berdasarkan
nilai-nilai kebenaran.
Konfusianisme
juga mengajarkan pentingnya Zhengming, atau pembenaran nama, yang
berarti bahwa setiap individu harus menjalankan perannya dalam masyarakat
sesuai dengan tanggung jawabnya. Filosofi ini menekankan pentingnya pendidikan,
karena dianggap sebagai sarana untuk membentuk karakter dan meningkatkan
kualitas manusia. Confucius percaya bahwa manusia harus terus belajar dan
memperbaiki diri agar dapat berkontribusi pada masyarakat yang harmonis.
Kedua
perspektif filosofis ini menawarkan wawasan yang relevan. Prinsip Wu Wei
dalam Taoisme dapat diterapkan untuk membantu kita mengelola tekanan dari
teknologi. Dengan mengikuti alur alami kehidupan, kita dapat menghindari
kelelahan akibat ritme digital yang tak henti-hentinya. Selain itu,
fleksibilitas seperti air dapat membantu kita menghadapi perubahan teknologi
dengan lebih bijaksana. Sebagai contoh, daripada memaksakan diri untuk selalu
terkoneksi, kita dapat memilih untuk mengambil jeda dan menikmati waktu tanpa
gangguan digital.
Konsep
Ren dalam Konfusianisme sangat relevan dalam membangun interaksi digital
yang sehat. Dengan menanamkan rasa empati dan kasih sayang, kita dapat
menciptakan ruang online yang lebih inklusif dan bebas dari perilaku
negatif seperti perundungan siber. Li atau tata krama juga penting dalam
menjaga etika komunikasi di media sosial, misalnya dengan menghormati privasi
orang lain dan berbicara dengan sopan. Sementara Yi menuntut kita untuk
berkomitmen pada kebenaran, yang menjadi sangat penting di tengah maraknya
berita palsu dan disinformasi.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kedua filsafat ini dapat membantu kita menemukan
keseimbangan antara dunia digital dan hubungan manusiawi. Taoisme mengajarkan
kita untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan menghindari perilaku
yang berlebihan. Sementara konfusianisme, dengan penekanannya pada hubungan
sosial yang harmonis, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga koneksi dengan
keluarga dan komunitas. Di tempat kerja, prinsip Wu Wei dapat membantu
menciptakan lingkungan yang mendukung alur kerja alami, sementara Ren
dan Li dapat membangun budaya kerja yang saling menghormati.
Di
bidang pendidikan, nilai-nilai ini juga sangat relevan. Taoisme mendorong
pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan tidak kaku, yang dapat membantu
siswa menghadapi tantangan era modern. Sementara konfusianisme mengajarkan
pentingnya integritas dan tanggung jawab dalam proses belajar-mengajar,
menciptakan lingkungan pendidikan yang bermakna.
Kedua
filsafat ini juga memberikan panduan untuk mengelola kesehatan mental di era
digital. Taoisme, dengan fokus pada hidup sederhana dan harmoni dengan alam,
membantu kita menghargai momen-momen kecil dan mengurangi kecemasan. Sementara
konfusianisme, dengan nilai-nilai seperti kesetiaan pada keluarga dan
komunitas, dapat membantu kita melawan isolasi diri dari sosial dan membangun
hubungan yang bermakna.
Dengan
mengintegrasikan prinsip-prinsip Taoisme dan Konfusianisme dalam kehidupan
kita, kita dapat menjalani hidup yang lebih seimbang dan bermakna di tengah
dunia digital yang sedang masif dan berubah dengan cepat. Kebijaksanaan kuno
ini membuktikan bahwa meskipun muncul dari konteks atau masa yang berbeda,
ajaran mereka tetap relevan untuk menghadapi tantangan kemodernan, seperti cara
pandang terhadap perkembangan teknologi dan informasi digital.
Referensi:
Asta,
Naufal Robbiqis Dwi. “Filsafat Taoisme Dan Quarter Life Crisis: Menggali
Relevansi Pemikiran Filsafat Taoisme Sebagai Upaya Mencegah Permasalahan
Quarter Life Crisis”. Journal of Islamic Thought and Philosophy, Vol. 2,
No. 1, (2023).
Hartati,
Dewi. “Konfusianisme dalam Kebudayaan Cina Modern”, Paradigma, Jurnal Kajian
Budaya, Vol. 2, No. 2, (2012).
Heriyanti,
Komang. “Humanisme dalam Ajaran Konfusianisme”, Widya Katambung: Jurnal
Fisalfat Agama Hindu, Vol.12, No.1, (2021).
Zhafira,
Annisa Ranah. “Konsep Ketuhanan di dalam Agama Taoisme dan Konfusianisme”, El-Fikr:
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Vol. 2, No. 2, (2021).